catatan zakat fitrah


Ta’rif Zakat

Zakat secara bahasa adalah berkembang dan bertambah, terkadang juga diucapkan dengan makna toharoh

قال تعالى: {قد أفلح من زكاها} [الشمس:9/ 91] أي طهرها عن الأدناس

Terkadang juga bermakna kebaikan, seperti ucapan

رجل زكيّ، أي زائد الخير

Secara istilah zakat adalah nama untuk sesuatu yang dikeluarkan  dari harta dan badan dengan cara tertentu, dari sini bis akita klasifikasikan bahwa zakat ada 2 macam yakni zakat mal dan zakat badan atau zakat fitrah.

 

Hikmah Zakat

Perbedaan antar sesama manusia dalam hal rizki, dan perolehan penghasilan adalah suatu kenyataan yang terjadi dan memerlukan Solusi dalam syari’at. Allah berfirman

{والله فضل بعضكم على بعض في الرزق} [النحل:71/ 16]

وفريضة الزكاة أولى الوسائل لعلاج ذلك التفاوت

Beberapa hikmah zakat yang lain

·         Menjaga harta

قال صلّى الله عليه وسلم: «حصِّنوا أموالكم بالزكاة، وداووا مرضاكم بالصدقة، وأعدّوا للبلاء الدعاء»

·         Menolong orang faqir dan membutuhkan

·         Membersihkan hati dari penyakit tamak dan bahil

·         Bentuk expresi Syukur terhadap nikmat allah

 

Kewajiban Zakat

Al-qur’an فقوله تعالى: {وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة} [البقرة:43/ 2]

Hadits «بني الإسلام على خمس … منها إيتاء الزكاة»

Barang siapa yang ingkar kewajiban zakat maka ia telah keluar dari islam

 

Zakat Fitrah

Legalitas zakat fitrah dari Khobar :

خبر ابن عمر: فيما رواه الجماعة إلا ابن ماجه: «فرض رسول الله صلّى الله عليه وسلم زكاة الفطر من رمضان على الناس صاعاً من تمر، أو صاعاً من شعير، على كل حر أو عبد، ذكر أو أنثى من المسلمين»

 

NB ; menurut abu hanifah zakat fitrah hukumnya wajib bukan fardhu, wajib menurut abu hanifah adalah suatu produk hukum yang ditetapkan dengan dalil dzonni (yang tidak sampai pada kepastian mutlak atau hadist mutawatir) contohnya zakat fitrah dan sholat witir, sedangkan fardhu adalah produk hukum yang ditetapkan dengan dalil yang qot’I seperti al-quran dan hadits mutawatir.[1]

Sedangkan madzhab kita tidak membedakan antara wajib dan juga fardhu.

 

Kewajiban Zakat Fitrah

Diwajibkan bagi seorang yang :

·         islam (kafir tidak wajib kecuali kepada orang yang nafkahnya ia tanggung dari seorang muslim),

·         Merdeka (budak tidak wajib mengeluarkan zakat atas dirinya maupun istrinya walaupun istrinya Merdeka)[2],

·         Mampu, sesorang yang hanya punya makanan pokok untuk makan dirinya dan orang yang ia tanggung pada malam hari raya dan besoknya pada waktu wajib, maka ia tidak wajib membayar zakat, dan tidak wajib qodo’.

                Ketika hanya mampu mengeluarkan setengah so’ qoul yang asoh menurut ashab adalah wajib             baginya mengeluarkannya.[3]

وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

·         Anak kecil maupun dewasa, gila maupaun sehat.

 

Kewajiban menanggung zakat atas orang lain itu disebabkan 3 perkara ;

1.      kepemilikan (budak), istri budak yang beragama islam zakatnya di tanggung sayid jika ia juga budak, dan ditanggung sendiri jika ia Merdeka. (qoul madzhab)

2.     pernikahan (istri)kecuali ketika ia nusyuz.

3.      kerabat.

    Ushul dan furu’ ketika nafkahnya ditanggung, maka wajib pula menanggung fitrahnya,

Ø  orang tua wajib dinafkahi oleh anaknya ketika faqir dan cacat atau faqir dan gila.

Ø  Anak wajib dinafkahi oleh orang tua ketika ia faqir dan kecil, faqir dan cacat, atau faqir dan gila.[4]

الابنة ثلثها

Ø  Tidak wajib menanggung nafkahnya Saudara/saudari menurut madzhab kita

وَلَا يُنْفِقُ عَلَى أَحَدِ ‌أَقْرِبَائِهِ غَيْرُهُمْ – يعني الأصول والفروع - لَا أَخٌ وَلَا عَمٌّ وَلَا خَالَةٌ وَلَا عَلَى عَمَّةٍ وَلَا عَلَى ابْنٍ مِنْ رَضَاعَةٍ (الأم-5/97)

 

وَخَرَجَ ‌بِالْأُصُولِ وَالْفُرُوعِ غَيْرُهُمَا مِنْ سَائِرِ الْأَقَارِبِ كَالْأَخِ وَالْأُخْتِ وَالْعَمِّ وَالْعَمَّةِ، وَأَوْجَبَ أَبُو حَنِيفَةَ - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ - نَفَقَةَ كُلِّ ذِي مَحْرَمٍ بِشَرْطِ اتِّفَاقِ الدِّينِ (مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج-5/184)

 

Ø  Jika ada laki-laki miskin dan cacat kemudian ia punya bapak dan anak laki-laki maka yang wajib menafkahi ada 3 qoul ;

-. Kewajiban dibebankan ke bapak.

-. Kewajiban dibebankan ke anak.

-. Kewajiban dibebankan ke bapak sekaligus anak secara rata.

 

المجموع شرح المهذب - ط المنيرية - 18/302

(فرع)

وإن كان ‌الرجل ‌فقيرا زمنا وله أب وابن موسران ففيه ثلاثة أوجه

(أحدها) تجب نفقته على الاب لان وجوب النفقة على الاب منصوص عليها في القرآن، ووجوب النفقة على الابن مجتهد فيها

(والثانى)

أن نفقته على الابن لانه أقوى تعصيبا من الاب (والثالث) تجب نفقته عليهما لانهما متساويان بالدرجة منه والتعصيب.

فإذا قلنا بهذا فهل يجب عليهما نصفين أو تعتبر بميراثهما منه؟ فيه وجهان.

قال العمرانى " الاصح أنهما عليهما نصفان

 

Ketika yang wujud anak laki-dan Perempuan

المجموع شرح المهذب - ط المنيرية - 18/303

وإن كان له ابن وابنة موسرة فقال الماوردى، قال أصحابنا البغداديون تجب جميع النفقة على الابن، لانهما متساويان في الدرجة، وللابن مزية بالتعصيب فقدم في وجوب النفقة عليه كالاب إذا اجتمع مع الام.

وقال الخراسانيون من أصحابنا تجب النفقة عليهما؟ فيه وجهان

(أحدهما)

قال المسعودي وهو الاصح تجب عليهما نصفين، وبه قال أبو حنيفة

(والثانى)

تجب عليهما على قدر ميراثهما، فيجب على الابن ثلثا النفقة وعلى الابنة ثلثها

 

Namun didalam 3 tersebut ada pengecualian yang surohnya mutafaak alaih dan muktalaf fiih.

 Termasuk pengecualian adalah seorang anak wajib menafkahi istri dari ayahnya (ibu tiri) sebab wajibnya I’faf, namun pada masalah zakat fitrahnya ada 2 wajah,

Pertama : zakatnya wajib ia keluarkan pendapat ashoh menurut (ghozali, sohibul bayan imam al-imroni dan sekelompok ulama’

Kedua : zakatnya tidak wajib ia tanggung (imam baghowi, imam rofi’I dalam muharror) dan ini adalah pendapat al=mukhtar menurut imam Nawawi. Sebaliknya Adapun menantu Perempuan jika miskin, nafkah dan fitrahnya tidak dibebankan kepada ayah mertuanya sebab ketiadaan wajib I’faf atasnya.[5]

 I’faf adalah menjaga kehormatan ayah dan menghindarkannya dari zina dengan memberikan biaya untuk pernikahan dan nafkah istrinya.

(lihat nihayatul muhtaj 6/322)

 

 

Waktu Mengeluarkan Zakat Fitrah[6]

·         Wajib : setelah tenggelamnya matahari dan masuk 1 syawal menurut jumhur, sedang Hanafi dan qoul qodimnya imam syafi’I adalah ketika munculnya fajar hari raya id, perbedaan pendapat ini muncul sebab perbedaan perspektif apakah zakat ini ibadah yang berhubungan dengan hari raya, atau disebabkan keluarnya bulan romadhon.

·         Mubah : dikeluarkan ketika awal romadhon

·         Sunah : sebelum berangkat sholat id, tidak boleh mengakhirkannya sampai pelaksanaan sholat id. Sebab maksud dari zakat fitrah itu sendiri adalah jangan sampai pada hari kebahagiaan ada orang faqir yang merasa susah.

·         Haram : setelah tenggelamnya hari raya id. Ketika mengakhirkana tanpa ada udzur maka Wajib qodo’ seketika.

Tidaklah haram mengakhirkan zakat jika ada udzur seperti ketiadaan mustahik, ghoibnya harta pada jarak kurang dari 2 marhalah, jika pada jarak lebih dari 2 marhalah maka tidak wajib baginya zakat karena dia dihukumi sebagai faqir seperti yang di katakan dalam kitab busrol karim.

 

Jenis Yang Dikeluarkan :[7]

·         Hanafi ; setiap yang dimansus oleh syara’ yaitu gandum khintoh dan syair, kurma dan anggur

·         Maliki : makanan pokok dari 9 jenis yaitu gandum jenis komhun dan syair, jagung dll

·         Syafi’I ; makanan pokok negara yang ditempati

·         Hanbali : seperti Hanafi namun ketika tidak wujud diganti dengan makanan pokok tempat tinggalnya.

 

Ukuran 1 sho’ :

1.      Madzhab Hanafi 3,8 kg kurma kering/jelai(syair), atau 1,9 kg gandum/gandum(khintoh)

2.      Madzhab Maliki 2,75 kg

3.      Madzhab Syafi’i 2,75 kg

4.      Madzhab Hambali 2,75 kg

    Hikmah diwajibkannya 1 so’, karena secara umum orang ketika hari ray aitu libur tidak bekerja 4 hari, dan 1 so’ secara umum dapat mencukupi untuk makan 4 hari tersebut.[8]

 

 

Mustahik Zakat[9]

·         Jumhur ulama boleh memberikan kepada 8 golongan yang di mansus dalam al-qur’an

ﵟإِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ ‌لِلۡفُقَرَآءِ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱلۡعَٰمِلِينَ عَلَيۡهَا وَٱلۡمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمۡ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَٱلۡغَٰرِمِينَ وَفِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِۖﵞ  التوبة – 60

·         Malikiyah mentahsis masrof zakat fitrah kepada fakir miskin

·         Syafi’iyah wajib diratakan kepada 8 asnaf jika tidak dapat menemukan keselurahan maka wajib diberikan kepada yang wujud dari 8 asnaf

 

      1.      Faqir  : orang yang tidak punya harta dan pekerjaan layak, atau punya pekerjaan namun tidak layak (sebab haram atau menghilangkan harga diri)[10]  berlaku sebaliknya.

             Tidak dapat mencegah status faqir jika ia misalkan punya rumah, baju bagus pada sebagian            kesempatan, dan buku, hartanya yang jauh melebihi 2 marhalah, atau hadir namun ada yang                     menghalangi.

      2.      Miskin : orang yang mempunyai harta atau pekerjaan namun tidak dapat mencukupi kebutuhannya, seperti orang yang dalam sehari butuh uang 100 ribu, namun penghasilannya hanya 80 ribu, atau orang yang tidak mampu bekerja dan tidak ada yang menafkahi dan hanya punya harta yang tidak cukup dibuat hidup sampai 63 tahun makai a berhak menerima zakat meskipun hartanya lebih dari 1 nishob. 

            Sehingga imam ghozali dalam ihya’ mengatakan : ada orang yang memiliki 1.000 namun tergolong faqier, sedang ada oraang yang hanya punya kapak dan tali namun ia tergolong kaya.

      3.            Amil ; orang yang diangkat oleh imam untuk mengambil dan menyalurkan zakat.

      4.            Mu’alaf : orang yang baru masuk islam dan niat di hatinya masih lemah.

      5.            Budak mukatab : yakni yang dijanjikan Merdeka dengan tebusan,

      6.      Ghorim : orang yang berhutang untuk dirinya sendiri selagi tidak untuk ma’siat, yang berhutang untuk mendamaikan orang yang berselisih dan maslahat ammah seperti untuk membangun masjid walaupun ia kaya, dan berhutang untuk dhoman ketika yang menangung dan yang di tanggung pada keadaan susah.

            Keseluruhantersebut harus dibenarkan dengan kabarnya orang adil atau yang menghaki hutang.

7.            Sabilillah : orang yang berperang untuk membela agama allah, berhak menerima nafkahh pakaian kebutuhannya dan keluarganya.

8.            Ibn sabil : musafir yang lewat negara yang mengeluarkan zakat. Selagi safarnya mubah bukan ma’siyat. Walaupun hanya bertujun dolanan, bekerja atau tidaak tau tujuannya.

 

 

Catatan penting :

1.      Orang yang mengaku faqir ,miskin atau musafir berhak menerima zakat tanpa disuruh bersumpah. [11]

2.      Laki-laki yang punya pekerjaan namun butuh dana lebih untuk nikah maka boleh menerima zakat, atau punya pekerjaan namun disibukan oleh belajar ilmu syara’/menghafal alqur’an yang diharapkan kealimannya boleh menerima zakat jika  tidak ada orang tua yang menafkahi (berpegang bahwa nafkahnya wajib atas orang tua) sedang qoul mu’tamad mengatakan tidak wajib menfakahinya. )fathul alam syarah mursyidul anam)

3.      Madzhab syafi’I mewajibkan mentashorufkan zakat kepada 3 dari setiap golongan, (dhohirul madzhab), sekelompok ulama’  ashabnya imam syafi’I memperbolehkan memberikannya kepada 3 orang faqir/miskin yakni imam syubki, ustuhri, dan rouyani.

Bahkan abu ishak assirozi, dan ibnu mundzir memperbolehkan memberikaannya kepada satu orang, walaupun dari sekelompok orang.

Qola imam rouyani : jika imam syafi’I masih hidup pasti beliu juga akan berfatwa demikian. (fathul alam syarah mursyidul anam).

4.      Tidak boleh memindahkan zakat kedaerah muzaki,  sedangkan qoul doifnya boleh

(اعلم) - رحمك الله - إن مسألة ‌نقل ‌الزكاة فيها اختلاف كثير بين العلماء، والمشهور في مذهب الشافعي امتناع نقلها إذا وجد المستحقون لها في بلدها.

ومقابل المشهور جواز النقل، وهو مذهب الإمام أبي حنيفة (تعليق اعانة الطالبين)

 

Pendapat ibn ujail :

قال ابن عجيل (1) اليمني ثلاث مسائل في الزكاة يفتى فيها على خلاف المذهب، ‌نقل ‌الزكاة، ودفع زكاة واحد إلى واحد، ودفعها إلى صنف واحد

 Orang perantauan wajib mengeluarkan zakat ditempatnya pada saat ghurub (ghoyatut talkhis)

 Kewajiban membayar zakat pada tempat dimana ia berada saat wajibnya mengeluarkan

(قوله: عن بلد المال) أي عن محل المال الذي وجبت فيه الزكاة، وهو الذي كان فيه عند وجوبها

اعانة الطالبين) (

 

 Jarak Naqlu

(وَالصَّحِيحُ) أَنَّهُ لَا فَرْقَ ‌بَيْنَ ‌النَّقْلِ إلَى مسافة القصر ودونها كما صححه المصنف كذا صَحَّحَهُ الْجُمْهُورُ فَحَصَلَ مِنْ مَجْمُوعِ الْخِلَافِ أَرْبَعَةُ أَقْوَالٍ

(أَصَحُّهَا) لَا يُجْزِئُ النَّقْلُ مُطْلَقًا وَلَا يجوز

 (وَالثَّانِي) يُجْزِئُ وَيَجُوزُ

 (وَالثَّالِثُ) يُجْزِئُ وَلَا يَجُوز

(والرابع) يجزئ ويجوز لدون مسافة القصر ولا يجزئ ولا يجوز إليها

.

5.      Orang faqir yang telah di tanggung nafkahnya oleh ushul, furu' atau suami maka tidak boleh menerima zakat

(ولو أعطاها) أي الزكاة - ولو الفطرة - (لكافر، أو من به رق)- الى عن قال - ( أو مكفي بنفقة قريب) من أصل، أو فرع، أو زوج، بخلاف المكفي بنفقة متبرع (لم يجزئ) ذلك عن الزكاة

 

6.      Boleh seorang istri memberikan zakatnya kepada suami yang faqir, atau bapak kepada anaknya yang sudah baliq dan fakir. (fathul alam syarah mursyidul anam).

7.      Orang yang nafkahnya telah dicukupi tidak boleh menerima zakat, ketika nafkahnya lancar, namun ketika yang memberi nafkah sedang sulit, atau menghilang maka boleh menerima zakat. (fathul alam syarah mursyidul anam).

 

 

 

Masa’il

      1.            Zakat bil qimah/uang

Jawaban : secara prinsip ulama’ yang memperbolehkan zakat dengan qimah adalah madzhab Hanafi karena menurut beliau hakikatnya zakat fitrah adalah mencukupi orang fakir miskin, dengan memberikan uang kepada faqir lebih dapat bermanfaat dan mencukupi hajat mereka

لقوله صلّى الله عليه وسلم: «أغنوهم عن المسألة في مثل هذا اليوم»

, sedangkan Jumhur mengatakan tidak boleh menurut mereka zakat harus berupa makanan pokok, kendati demikian sebagian maasyarakat kadang merasa membayar zakat dengan qimah dirasa lebih mudah. Kemudian bagaiamna caranya agar tetap sah. :

·         Mengikuti madzhab Hanafi yang memperbolehkan dengan qimah, namun harus ditaksir harga kurma kering, jelai, anggur atau gandum.

·         Dengan cara TALFIK Dalam masalah diperbolehkannya menggunakan qimah mengikuti Hanafi namun ditaksir dengan beras mengikuti madzhab syafi’i. apakah boleh talfik   ? imam Nawawi dalam masalah TALFIK mengatakan ada 3 pendapat, : mutlak boleh, mutlak tidak boleh dan boleh selagi tidak menghasilkan formulasi hukum yang bertentangan dengan ijma’. Seperti kawin tanpa mahar, tanpa wali (Hanafi), dan tanpa saksi (maliki). Maka hal ini tidaj boleh. (mam Nawawi al-bantani, at-tsimar al-yani’ah,) hasil rumusan PBNU thn 2020.

·         Atau mengikuti syekh ibnu qosim dari kalangan maliki yang memperbolehkan qimah, dan pada madzhab maliki ukuran so’ makanan pokoknya sama yakni 2,75kg. sebagaimana di jelaskan oleh sayid alawi as-syaqow dalam tarsihul mustafidin.

      2.            Kyai dan ustadz sebagai sabilillah

·         Mengikuti imam qofal, dalam muroh labidnya imam Nawawi bantani

ونقل القفال عن بعض الفقهاء: أنهم أجازوا ‌صرف ‌الصدقات ‌إلى ‌جميع ‌وجوه الخير من تكفين الموتى وبناء الحصون وعمارة المساجد لأن قوله تعالى في سبيل الله عام في الكل.

Namun pendapat ini banyak yang menentang. Ali bin abu bakar bafadhol mengatakan didalam kitabnya mawahibul fadhl, pendapat ini tidak diketahui sumbernya dan bertentangan dengan qoul mayorotas ulama’.

·         Ulama’ malikiyah imam al-kharsyi mengutip pendapat ulama’ yang memperbolehkan memberikaan zakat fitrah kepada kyai atau ustadz atau santri sebab dampak kemanfaatan yang mereka berikan kepada umat islam sangat besar, namun hal ini pun berkontradiksi dengan madzhab malikiah itu sendiri yang mengatakan zakat fitrah hanya kepada faqir dan miskin, kecuali zakat mal, maka boleh.

·         Ulama’ Hanafi dalam al-bahru roiq ada 3 ma’na dari sabilillah yakni pergi perang, orang yang berangkat haji dan kehabisan biaya, terakhir segala macam bentuk ketoatan, namun ketiganya tersebut harus dibarengi dengan sifat faqir karena ini menjadi syarat.

Yang ke 4 pendapat setiap orang yang disibukkan dengan belajar mengajar boleh menerima zakat walaupun ia mempunyai harta kaya pendapat imam ibn abidin dalam roddul muhtar, namun inipun muqobilnya aujah yang tetap menssyaratkan faqir.

 

 

 

·        Ta,rif Amil

كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار. الصفحة :191

الْعَامِل وَهُوَ الَّذِي اسْتَعْملهُ الإِمَام على أَخذ الزكوات ليدفعها إِلَى مستحقيها كَمَا أمره الله تَعَالَى فَيجوز لَهُ أَخذ الزَّكَاة بِشَرْطِهِ لِأَنَّهُ من جملَة الْأَصْنَاف فِي الْآيَة الْكَرِيمَة.

 

·        Amil yang atas dasar suka rela tidak dapat dapat dikatakan amil

موهبة ذي الفضل على شرح مقدمة بافضل الجزء الرابع ص 120 ما نصه :

(والعاملون عليها) ومنهم الساعي الذي يبعثه الإمام لأخذ الزكوات وبعثه واجب (قوله والعاملون عليها) أي الزكاة يعنى من نصبه الإمام فى أخذ العمالة من الزكوات—إلى أن قالـــ--ومقتضاه أن من عمل متبرعا لايستحق شيأ على القاعدة

 

·        Larangan Mencampur Zakat

الأم للشافعي. جزء : 2, الصفحة:84.

وَلَا يَجُوزُ لَك إذَا كَانَتْ الزَّكَاةُ فَرْضًا عَلَيْك أَنْ يَعُودَ إلَيْك مِنْهَا شَيْءٌ، فَإِنْ أَدَّيْت مَا كَانَ عَلَيْك أَنْ تُؤَدِّيَهُ وَإِلَّا كُنْت عَاصِيًا لَوْ مَنَعْته، فَإِنْ قَالَ: فَإِنْ وَلَّيْتهَا غَيْرِي؟ قِيلَ إذَا كُنْت لَا تَكُونُ عَامِلًا عَلَى غَيْرِك لَمْ يَكُنْ غَيْرُك عَامِلًا إذَا اسْتَعْمَلْته أَنْتَ، وَلَا يَكُونُ وَكِيلُك فِيهَا إلَّا فِي مَعْنَاك، أَوْ أَقَلَّ؛ لِأَنَّ عَلَيْك تَفْرِيقُهَا، فَإِذَا تَحَقَّقَ مِنْك فَلَيْسَ لَك الِانْتِقَاصُ مِنْهَا لَمَّا تَحَقَّقْت بِقِيَامِهِ بِهَا.

 

·        Berbeda jika yang mencampur  mustahik/ imam

البيان في مذهب الإمام الشافعي جزء : 3, الصفحة:405

فإن أخذ الإمام من رجل زكاته، وكان الدافع مستحقا لأخذ الزكاة، فدفع الإمام إليه زكاته بعينها.. أجزأه؛ لأن ذمته قد برئت بتسليمها إلى الإمام، وإنما رجعت إليه بسبب آخر.

 

إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين جزء : 2, الصفحة:206

(قوله: أو إمام) معطوف على وكيل، أي وتكفي النية عند إعطاء إمام الزكاة، لأن الإمام نائب المستحقين، فالدفع إليه كالدفع إليهم، ولهذا أجزأت وإن تلفت عنده، بخلاف الوكيل

 

 

Closing stetment :

Baik itu zakat fitrah maupun zakat mal mari kita tunaikan, karena orang yang tidak mau mengeluarkan zakatnya itu seperti maling, maling mengambil harta orang kaya, sedangkan kita ketika tidak mau berzakaat  berarti mengambil hak orang fakir miskin, tentu ini lebih ironis



[1] المجموع شرح المهذب - ط المنيرية  6/104

[2] Fathul mu’in

[3] المجموع شرح المهذب - ط المنيرية  6/111

[4] فتح القريب

[5] المجموع شرح المهذب - ط المنيرية  6/114

[6] الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي – 3/2043

[7] الفقه على المذاهب الأربعة

[8] Fathul ala li syaik Muhammad al-jurdani

[9] الموسوعة الفقهية الكويتية  23-341

[10] Ianatut tholibin

[11] Fathul mu’in


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laki-laki Yang Baik Akan Memperoleh Pasangan Wanita Yang Baik Pula

Sholatnya Musafir

HUKUM ANAK SILANGAN