catatan zakat fitrah
Ta’rif Zakat
Zakat secara bahasa adalah berkembang dan bertambah,
terkadang juga diucapkan dengan makna toharoh
قال تعالى: {قد أفلح من زكاها} [الشمس:9/ 91] أي طهرها عن الأدناس
Terkadang juga
bermakna kebaikan, seperti ucapan
رجل زكيّ، أي زائد الخير
Secara istilah zakat adalah nama untuk sesuatu yang dikeluarkan dari harta dan badan dengan cara tertentu,
dari sini bis akita klasifikasikan bahwa zakat ada 2 macam yakni zakat mal dan
zakat badan atau zakat fitrah.
Hikmah Zakat
Perbedaan antar sesama manusia dalam hal rizki, dan perolehan
penghasilan adalah suatu kenyataan yang terjadi dan memerlukan Solusi dalam
syari’at. Allah berfirman
{والله
فضل بعضكم على بعض في الرزق} [النحل:71/ 16]
وفريضة الزكاة أولى الوسائل لعلاج ذلك التفاوت
Beberapa hikmah
zakat yang lain
·
Menjaga harta
قال صلّى الله عليه وسلم: «حصِّنوا أموالكم
بالزكاة، وداووا مرضاكم بالصدقة، وأعدّوا للبلاء الدعاء»
·
Menolong orang faqir dan membutuhkan
·
Membersihkan hati dari penyakit tamak dan bahil
·
Bentuk expresi Syukur terhadap nikmat allah
Kewajiban Zakat
Al-qur’an فقوله تعالى: {وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة}
[البقرة:43/ 2]
Hadits «بني الإسلام على خمس … منها إيتاء الزكاة»
Barang siapa yang
ingkar kewajiban zakat maka ia telah keluar dari islam
Zakat Fitrah
Legalitas zakat
fitrah dari Khobar :
خبر ابن عمر: فيما رواه الجماعة إلا ابن ماجه: «فرض رسول الله صلّى
الله عليه وسلم زكاة الفطر من رمضان على الناس صاعاً من تمر، أو صاعاً من شعير،
على كل حر أو عبد، ذكر أو أنثى من المسلمين»
NB ; menurut abu hanifah zakat fitrah hukumnya wajib bukan fardhu, wajib
menurut abu hanifah adalah suatu produk hukum yang ditetapkan dengan dalil
dzonni (yang tidak sampai pada kepastian mutlak atau hadist mutawatir)
contohnya zakat fitrah dan sholat witir, sedangkan fardhu adalah produk hukum
yang ditetapkan dengan dalil yang qot’I seperti al-quran dan hadits mutawatir.[1]
Sedangkan madzhab
kita tidak membedakan antara wajib dan juga fardhu.
Kewajiban Zakat Fitrah
Diwajibkan bagi
seorang yang :
· islam (kafir tidak wajib kecuali kepada orang yang nafkahnya ia tanggung dari seorang muslim),
· Merdeka (budak tidak wajib mengeluarkan zakat atas dirinya maupun istrinya walaupun istrinya Merdeka)[2],
· Mampu, sesorang yang hanya punya makanan pokok untuk makan dirinya dan orang yang ia tanggung pada malam hari raya dan besoknya pada waktu wajib, maka ia tidak wajib membayar zakat, dan tidak wajib qodo’.
Ketika hanya mampu mengeluarkan setengah so’
qoul yang asoh menurut ashab adalah wajib baginya mengeluarkannya.[3]
وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ
مَا اسْتَطَعْتُمْ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
· Anak kecil maupun dewasa, gila maupaun sehat.
Kewajiban menanggung zakat atas
orang lain itu disebabkan 3 perkara ;
1. kepemilikan (budak), istri budak yang beragama islam zakatnya di tanggung sayid jika ia juga budak, dan ditanggung sendiri jika ia Merdeka. (qoul madzhab)
2. pernikahan (istri)kecuali ketika ia nusyuz.
3. kerabat.
Ushul dan furu’
ketika nafkahnya ditanggung, maka wajib pula menanggung fitrahnya,
Ø
orang tua wajib dinafkahi
oleh anaknya ketika faqir dan cacat atau faqir dan gila.
Ø
Anak wajib dinafkahi oleh
orang tua ketika ia faqir dan kecil, faqir dan cacat, atau faqir dan gila.[4]
الابنة ثلثها
Ø
Tidak wajib menanggung
nafkahnya Saudara/saudari menurut madzhab kita
وَلَا يُنْفِقُ عَلَى أَحَدِ أَقْرِبَائِهِ
غَيْرُهُمْ – يعني الأصول والفروع - لَا أَخٌ وَلَا عَمٌّ وَلَا خَالَةٌ وَلَا
عَلَى عَمَّةٍ وَلَا عَلَى ابْنٍ مِنْ رَضَاعَةٍ (الأم-5/97)
وَخَرَجَ بِالْأُصُولِ وَالْفُرُوعِ
غَيْرُهُمَا مِنْ سَائِرِ الْأَقَارِبِ كَالْأَخِ وَالْأُخْتِ وَالْعَمِّ
وَالْعَمَّةِ، وَأَوْجَبَ أَبُو حَنِيفَةَ - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -
نَفَقَةَ كُلِّ ذِي مَحْرَمٍ بِشَرْطِ اتِّفَاقِ الدِّينِ (مغني المحتاج إلى معرفة
معاني ألفاظ المنهاج-5/184)
Ø
Jika ada laki-laki miskin
dan cacat kemudian ia punya bapak dan anak laki-laki maka yang wajib menafkahi
ada 3 qoul ;
-. Kewajiban dibebankan ke bapak.
-. Kewajiban dibebankan ke anak.
-. Kewajiban dibebankan ke bapak sekaligus anak secara rata.
المجموع شرح المهذب - ط المنيرية - 18/302
(فرع)
وإن كان الرجل فقيرا
زمنا وله أب وابن موسران ففيه ثلاثة أوجه
(أحدها)
تجب نفقته على الاب لان وجوب النفقة على الاب منصوص عليها في القرآن، ووجوب النفقة
على الابن مجتهد فيها
(والثانى)
أن نفقته على
الابن لانه أقوى تعصيبا من الاب (والثالث) تجب نفقته عليهما لانهما متساويان
بالدرجة منه والتعصيب.
فإذا قلنا بهذا
فهل يجب عليهما نصفين أو تعتبر بميراثهما منه؟ فيه وجهان.
قال العمرانى
" الاصح أنهما عليهما نصفان
Ketika yang wujud anak laki-dan
Perempuan
المجموع شرح المهذب - ط المنيرية - 18/303
وإن كان له ابن
وابنة موسرة فقال الماوردى، قال أصحابنا البغداديون تجب جميع النفقة على الابن،
لانهما متساويان في الدرجة، وللابن مزية بالتعصيب فقدم في وجوب النفقة عليه كالاب
إذا اجتمع مع الام.
وقال
الخراسانيون من أصحابنا تجب النفقة عليهما؟ فيه وجهان
(أحدهما)
قال المسعودي
وهو الاصح تجب عليهما نصفين، وبه قال أبو حنيفة
(والثانى)
تجب عليهما على قدر ميراثهما، فيجب على الابن
ثلثا النفقة وعلى الابنة ثلثها
Namun didalam 3 tersebut ada pengecualian
yang surohnya mutafaak alaih dan muktalaf fiih.
Pertama : zakatnya
wajib ia keluarkan pendapat ashoh menurut (ghozali, sohibul bayan imam
al-imroni dan sekelompok ulama’
Kedua : zakatnya
tidak wajib ia tanggung (imam baghowi, imam rofi’I dalam muharror) dan ini
adalah pendapat al=mukhtar menurut imam Nawawi. Sebaliknya Adapun menantu Perempuan
jika miskin, nafkah dan fitrahnya tidak dibebankan kepada ayah mertuanya sebab
ketiadaan wajib I’faf atasnya.[5]
(lihat nihayatul muhtaj 6/322)
Waktu Mengeluarkan Zakat Fitrah[6]
· Wajib : setelah tenggelamnya matahari dan masuk 1 syawal menurut jumhur, sedang Hanafi dan qoul qodimnya imam syafi’I adalah ketika munculnya fajar hari raya id, perbedaan pendapat ini muncul sebab perbedaan perspektif apakah zakat ini ibadah yang berhubungan dengan hari raya, atau disebabkan keluarnya bulan romadhon.
· Mubah : dikeluarkan ketika awal romadhon
· Sunah : sebelum berangkat sholat id, tidak boleh mengakhirkannya sampai pelaksanaan sholat id. Sebab maksud dari zakat fitrah itu sendiri adalah jangan sampai pada hari kebahagiaan ada orang faqir yang merasa susah.
· Haram : setelah tenggelamnya hari raya id. Ketika mengakhirkana tanpa ada udzur maka Wajib qodo’ seketika.
Tidaklah haram mengakhirkan zakat
jika ada udzur seperti ketiadaan mustahik, ghoibnya harta pada jarak kurang
dari 2 marhalah, jika pada jarak lebih dari 2 marhalah maka tidak wajib baginya
zakat karena dia dihukumi sebagai faqir seperti yang di katakan dalam kitab
busrol karim.
Jenis Yang Dikeluarkan :[7]
·
Hanafi ; setiap yang
dimansus oleh syara’ yaitu gandum khintoh dan syair, kurma dan anggur
·
Maliki : makanan pokok dari
9 jenis yaitu gandum jenis komhun dan syair, jagung dll
·
Syafi’I ; makanan pokok
negara yang ditempati
·
Hanbali : seperti Hanafi
namun ketika tidak wujud diganti dengan makanan pokok tempat tinggalnya.
Ukuran 1 sho’ :
1.
Madzhab Hanafi 3,8 kg kurma kering/jelai(syair), atau 1,9 kg gandum/gandum(khintoh)
2.
Madzhab Maliki 2,75 kg
3.
Madzhab Syafi’i 2,75 kg
4.
Madzhab Hambali 2,75 kg
Hikmah
diwajibkannya 1 so’, karena secara umum orang ketika hari ray aitu libur tidak
bekerja 4 hari, dan 1 so’ secara umum dapat mencukupi untuk makan 4 hari
tersebut.[8]
Mustahik Zakat[9]
·
Jumhur ulama boleh
memberikan kepada 8 golongan yang di mansus dalam al-qur’an
ﵟإِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلۡفُقَرَآءِ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱلۡعَٰمِلِينَ عَلَيۡهَا وَٱلۡمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمۡ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَٱلۡغَٰرِمِينَ وَفِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِۖﵞ التوبة –
60
· Malikiyah mentahsis masrof zakat fitrah kepada fakir miskin
· Syafi’iyah wajib diratakan kepada 8 asnaf jika tidak dapat menemukan keselurahan maka wajib diberikan kepada yang wujud dari 8 asnaf
1. Faqir : orang yang tidak punya harta dan pekerjaan layak, atau punya pekerjaan namun tidak layak (sebab haram atau menghilangkan harga diri)[10] berlaku sebaliknya.
Tidak dapat
mencegah status faqir jika ia misalkan punya rumah, baju bagus pada sebagian
kesempatan, dan buku, hartanya yang jauh melebihi 2 marhalah, atau hadir namun
ada yang menghalangi.
2. Miskin : orang yang mempunyai harta atau pekerjaan namun tidak dapat mencukupi kebutuhannya, seperti orang yang dalam sehari butuh uang 100 ribu, namun penghasilannya hanya 80 ribu, atau orang yang tidak mampu bekerja dan tidak ada yang menafkahi dan hanya punya harta yang tidak cukup dibuat hidup sampai 63 tahun makai a berhak menerima zakat meskipun hartanya lebih dari 1 nishob.
Sehingga imam ghozali dalam ihya’ mengatakan : ada orang yang memiliki 1.000 namun tergolong faqier, sedang ada oraang yang hanya punya kapak dan tali namun ia tergolong kaya.
3. Amil ; orang yang diangkat oleh imam untuk mengambil dan menyalurkan zakat.
4. Mu’alaf : orang yang baru masuk islam dan niat di hatinya masih lemah.
5. Budak mukatab : yakni yang dijanjikan Merdeka dengan tebusan,
6. Ghorim : orang yang berhutang untuk dirinya sendiri selagi tidak untuk ma’siat, yang berhutang untuk mendamaikan orang yang berselisih dan maslahat ammah seperti untuk membangun masjid walaupun ia kaya, dan berhutang untuk dhoman ketika yang menangung dan yang di tanggung pada keadaan susah.
Keseluruhantersebut harus dibenarkan dengan
kabarnya orang adil atau yang menghaki hutang.
7.
Sabilillah : orang yang
berperang untuk membela agama allah, berhak menerima nafkahh pakaian
kebutuhannya dan keluarganya.
8.
Ibn sabil : musafir yang
lewat negara yang mengeluarkan zakat. Selagi safarnya mubah bukan ma’siyat.
Walaupun hanya bertujun dolanan, bekerja atau tidaak tau tujuannya.
Catatan penting :
1.
Orang yang mengaku faqir
,miskin atau musafir berhak menerima zakat tanpa disuruh bersumpah. [11]
2.
Laki-laki yang punya
pekerjaan namun butuh dana lebih untuk nikah maka boleh menerima zakat, atau
punya pekerjaan namun disibukan oleh belajar ilmu syara’/menghafal alqur’an
yang diharapkan kealimannya boleh menerima zakat jika tidak ada orang tua yang menafkahi (berpegang
bahwa nafkahnya wajib atas orang tua) sedang qoul mu’tamad mengatakan tidak
wajib menfakahinya.
)fathul alam syarah mursyidul anam)
3.
Madzhab syafi’I mewajibkan
mentashorufkan zakat kepada 3 dari setiap golongan, (dhohirul madzhab),
sekelompok ulama’ ashabnya imam syafi’I
memperbolehkan memberikannya kepada 3 orang faqir/miskin yakni imam syubki, ustuhri,
dan rouyani.
Bahkan abu ishak assirozi, dan ibnu mundzir
memperbolehkan memberikaannya kepada satu orang, walaupun dari sekelompok
orang.
Qola imam rouyani : jika imam syafi’I masih hidup
pasti beliu juga akan berfatwa demikian. (fathul alam syarah mursyidul anam).
4.
Tidak boleh memindahkan
zakat kedaerah muzaki, sedangkan qoul doifnya boleh
(اعلم)
- رحمك الله - إن مسألة نقل الزكاة فيها اختلاف كثير بين العلماء، والمشهور في
مذهب الشافعي امتناع نقلها إذا وجد المستحقون لها في بلدها.
ومقابل المشهور
جواز النقل، وهو مذهب الإمام أبي حنيفة (تعليق اعانة الطالبين)
Pendapat ibn ujail :
قال ابن عجيل
(1) اليمني ثلاث مسائل في الزكاة يفتى فيها على خلاف المذهب، نقل الزكاة، ودفع
زكاة واحد إلى واحد، ودفعها إلى صنف واحد
Orang perantauan wajib mengeluarkan zakat ditempatnya pada saat ghurub (ghoyatut talkhis)
(قوله: عن بلد
المال) أي عن محل المال الذي وجبت فيه الزكاة، وهو الذي كان فيه عند وجوبها
اعانة الطالبين) (
Jarak Naqlu
(وَالصَّحِيحُ)
أَنَّهُ لَا فَرْقَ بَيْنَ النَّقْلِ إلَى مسافة القصر ودونها كما صححه المصنف
كذا صَحَّحَهُ الْجُمْهُورُ فَحَصَلَ مِنْ مَجْمُوعِ الْخِلَافِ أَرْبَعَةُ
أَقْوَالٍ
(أَصَحُّهَا)
لَا يُجْزِئُ النَّقْلُ مُطْلَقًا وَلَا يجوز
(وَالثَّانِي) يُجْزِئُ وَيَجُوزُ
(وَالثَّالِثُ) يُجْزِئُ وَلَا يَجُوز
(والرابع)
يجزئ ويجوز لدون مسافة القصر ولا يجزئ ولا يجوز إليها
.
5.
Orang faqir yang telah di
tanggung nafkahnya oleh ushul, furu' atau suami maka tidak boleh menerima zakat
(ولو
أعطاها) أي الزكاة - ولو الفطرة - (لكافر، أو من به رق)- الى عن قال - ( أو مكفي
بنفقة قريب) من أصل، أو فرع، أو زوج، بخلاف المكفي بنفقة متبرع (لم يجزئ) ذلك عن
الزكاة
6.
Boleh seorang istri
memberikan zakatnya kepada suami yang faqir, atau bapak kepada anaknya yang
sudah baliq dan fakir. (fathul alam syarah mursyidul anam).
7.
Orang yang nafkahnya telah
dicukupi tidak boleh menerima zakat, ketika nafkahnya lancar, namun ketika yang
memberi nafkah sedang sulit, atau menghilang maka boleh menerima zakat. (fathul
alam syarah mursyidul anam).
Masa’il
1. Zakat bil qimah/uang
Jawaban : secara prinsip ulama’ yang
memperbolehkan zakat dengan qimah adalah madzhab Hanafi karena menurut beliau
hakikatnya zakat fitrah adalah mencukupi orang fakir miskin, dengan memberikan
uang kepada faqir lebih dapat bermanfaat dan mencukupi hajat mereka
لقوله صلّى الله عليه وسلم: «أغنوهم عن المسألة
في مثل هذا اليوم»
, sedangkan
Jumhur mengatakan tidak boleh menurut mereka zakat harus berupa makanan pokok,
kendati demikian sebagian maasyarakat kadang merasa membayar zakat dengan qimah
dirasa lebih mudah. Kemudian bagaiamna caranya agar tetap sah. :
·
Mengikuti madzhab Hanafi
yang memperbolehkan dengan qimah, namun harus ditaksir harga kurma kering,
jelai, anggur atau gandum.
·
Dengan cara TALFIK
Dalam masalah diperbolehkannya menggunakan qimah mengikuti Hanafi namun
ditaksir dengan beras mengikuti madzhab syafi’i. apakah boleh talfik ?
imam Nawawi dalam masalah TALFIK mengatakan ada 3 pendapat, : mutlak
boleh, mutlak tidak boleh dan boleh selagi tidak menghasilkan formulasi hukum
yang bertentangan dengan ijma’. Seperti kawin tanpa mahar, tanpa wali (Hanafi),
dan tanpa saksi (maliki). Maka hal ini tidaj boleh. (mam Nawawi al-bantani, at-tsimar
al-yani’ah,) hasil rumusan PBNU thn 2020.
·
Atau mengikuti syekh ibnu
qosim dari kalangan maliki yang memperbolehkan qimah, dan pada madzhab maliki
ukuran so’ makanan pokoknya sama yakni 2,75kg. sebagaimana di jelaskan oleh
sayid alawi as-syaqow dalam tarsihul mustafidin.
2. Kyai dan ustadz sebagai sabilillah
·
Mengikuti imam qofal, dalam
muroh labidnya imam Nawawi bantani
ونقل القفال عن بعض الفقهاء: أنهم أجازوا صرف الصدقات
إلى جميع وجوه الخير من تكفين الموتى وبناء الحصون وعمارة المساجد لأن قوله
تعالى في سبيل الله عام في الكل.
Namun pendapat ini banyak yang
menentang. Ali bin abu bakar bafadhol mengatakan didalam kitabnya mawahibul
fadhl, pendapat ini tidak diketahui sumbernya dan bertentangan dengan qoul
mayorotas ulama’.
·
Ulama’ malikiyah imam
al-kharsyi mengutip pendapat ulama’ yang memperbolehkan memberikaan zakat
fitrah kepada kyai atau ustadz atau santri sebab dampak kemanfaatan yang mereka
berikan kepada umat islam sangat besar, namun hal ini pun berkontradiksi dengan
madzhab malikiah itu sendiri yang mengatakan zakat fitrah hanya kepada faqir
dan miskin, kecuali zakat mal, maka boleh.
·
Ulama’ Hanafi dalam
al-bahru roiq ada 3 ma’na dari sabilillah yakni pergi perang, orang yang
berangkat haji dan kehabisan biaya, terakhir segala macam bentuk ketoatan,
namun ketiganya tersebut harus dibarengi dengan sifat faqir karena ini menjadi
syarat.
Yang ke 4 pendapat setiap orang yang disibukkan dengan
belajar mengajar boleh menerima zakat walaupun ia mempunyai harta kaya pendapat
imam ibn abidin dalam roddul muhtar, namun inipun muqobilnya aujah yang tetap
menssyaratkan faqir.
·
Ta,rif Amil
كفاية الأخيار
في حل غاية الاختصار. الصفحة :191
الْعَامِل
وَهُوَ الَّذِي اسْتَعْملهُ الإِمَام على أَخذ الزكوات ليدفعها إِلَى مستحقيها
كَمَا أمره الله تَعَالَى فَيجوز لَهُ أَخذ الزَّكَاة بِشَرْطِهِ لِأَنَّهُ من
جملَة الْأَصْنَاف فِي الْآيَة الْكَرِيمَة.
·
Amil yang atas dasar suka rela tidak dapat dapat dikatakan amil
موهبة ذي الفضل على شرح مقدمة بافضل الجزء الرابع ص 120 ما نصه :
(والعاملون عليها) ومنهم الساعي الذي يبعثه
الإمام لأخذ الزكوات وبعثه واجب (قوله والعاملون عليها) أي الزكاة يعنى من نصبه
الإمام فى أخذ العمالة من الزكوات—إلى أن قالـــ--ومقتضاه أن من عمل متبرعا
لايستحق شيأ على القاعدة
·
Larangan Mencampur Zakat
الأم للشافعي.
جزء : 2, الصفحة:84.
وَلَا يَجُوزُ
لَك إذَا كَانَتْ الزَّكَاةُ فَرْضًا عَلَيْك أَنْ يَعُودَ إلَيْك مِنْهَا شَيْءٌ، فَإِنْ أَدَّيْت مَا كَانَ عَلَيْك أَنْ تُؤَدِّيَهُ
وَإِلَّا كُنْت عَاصِيًا لَوْ مَنَعْته، فَإِنْ قَالَ: فَإِنْ وَلَّيْتهَا
غَيْرِي؟ قِيلَ إذَا كُنْت لَا تَكُونُ عَامِلًا عَلَى غَيْرِك لَمْ يَكُنْ
غَيْرُك عَامِلًا إذَا اسْتَعْمَلْته أَنْتَ، وَلَا يَكُونُ وَكِيلُك فِيهَا إلَّا
فِي مَعْنَاك، أَوْ أَقَلَّ؛ لِأَنَّ عَلَيْك تَفْرِيقُهَا، فَإِذَا تَحَقَّقَ
مِنْك فَلَيْسَ لَك الِانْتِقَاصُ مِنْهَا لَمَّا تَحَقَّقْت بِقِيَامِهِ بِهَا.
·
Berbeda jika yang mencampur mustahik/ imam
البيان في مذهب
الإمام الشافعي جزء : 3, الصفحة:405
فإن أخذ الإمام
من رجل زكاته، وكان الدافع مستحقا لأخذ الزكاة، فدفع الإمام إليه زكاته بعينها..
أجزأه؛ لأن ذمته قد برئت بتسليمها إلى الإمام، وإنما رجعت إليه بسبب آخر.
إعانة الطالبين
على حل ألفاظ فتح المعين جزء : 2, الصفحة:206
(قوله: أو إمام)
معطوف على وكيل، أي وتكفي النية عند إعطاء إمام الزكاة، لأن الإمام نائب
المستحقين، فالدفع إليه كالدفع إليهم، ولهذا أجزأت وإن تلفت عنده،
بخلاف الوكيل
Closing stetment :
Baik itu zakat fitrah maupun zakat mal mari kita tunaikan,
karena orang yang tidak mau mengeluarkan zakatnya itu seperti maling, maling
mengambil harta orang kaya, sedangkan kita ketika tidak mau berzakaat berarti mengambil hak orang fakir miskin,
tentu ini lebih ironis
[1] المجموع شرح المهذب - ط المنيرية 6/104
[2]
Fathul mu’in
[3] المجموع شرح المهذب - ط المنيرية 6/111
[4] فتح القريب
[5] المجموع شرح المهذب - ط المنيرية 6/114
[6] الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي – 3/2043
[7] الفقه على المذاهب الأربعة
[8]
Fathul ala li syaik Muhammad al-jurdani
[9] الموسوعة الفقهية الكويتية 23-341
[10]
Ianatut tholibin
[11]
Fathul mu’in
.png)
Komentar
Posting Komentar