Harta, Tahta Atau Ilmu?

   



Telah masyhur diceritakan bahwa pernah suatu ketika nabi sulaiman di tawari oleh allah Ta'ala antara, harta, tahta atau ilmu. Kemudian nabi sulaiman memilih ilmu 

Andai beliau memilih harta, jelas rugi karena harta akan habis jika tidak dibarengi dengan ilmu dalam mengelolanya. Seperti yang di dawuhkan sayidina ali

<< الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ. الْعِلْمُ يَحْرُسُك، وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالِ. الْعِلْمُ حَاكِمٌ وَالْمَالُ مَحْكُومٌ عَلَيْهِ. 

“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu bisa menjagamu, sedangkan harta kamu yang menjaganya. Ilmu sebagai hakim sementara harta objek yang dihukumi. 

📚 [ Adabud Dunya Wad Diin, Almawardi Hal: 48


Andai beliau memilih tahta dan allah tidak memberikan nya ilmu sekaligus, tambah bahaya lagi, karena jika yang berkuasa adalah orang bodoh, pasti setiap kebijakannya akan menyengsarakan rakyat. 

Dawuhnya kanjeng nabi :

إِذا وُسِّدَ الأمْرُ إِلَى غَيْرِ أهْلِهِ فانْتَظِرِ الساعة

" Bila urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggu saja kiamatnya. (Jâmius shôghir) 


Tapi karena beliau memilih ilmu maka allah memberikan harta dan tahta sekaligus kepada beliau. Selaras dengan ucapan yang dinisbatkan kepada imam syafi'i, yang di tulis imam baihaqi dalam kitabnya manaqib as-syafi'i

من أراد الدنيا فعليه بالعلم، ومن أراد الآخرة فعليه بالعلم، ومن أرادهما معا فعليه بالعلم

Komentar